Buku Teori Kritis Sekolah Frankfurt memperkenalkan pemikiran filsuf Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno dalam dua pokok pemikiran. Pertama, konsep tentang teori kritis. Kedua, kritik terhadap usaha manusia rasional yang terlihat macet dan gagal. Pada edisi baru ini, Sindhunata menambahkan tulisan tentang teori Sekolah Frankfurt yang digunakan untuk menyoroti beberapa gejala sosial di masa seka…
Dengan menyusu pada raja celeng, mereka pun memperkuat ilmu celengnya. Dan apa lagi ilmu celeng itu, selain serakah, ilmlu kemaruk, ilmu mengeruk harta, ilmu korupsi , ilmu gila kuasa untuk menumpuk kekayaan yang tiada batasnya. Namun untuk bisa menyusu dan memperoleh ilmu itu ada syaratnya. Kurang lebih sama dengan pesugihan, yang juga menuntut syarat kurban.Menyusu Celeng karya Sindhunata, be…
Buku ini mengisahkan sosok manusia, setelah penulisnya menyelami kehidupan orang miskin, rakyat jelata, dan kaum pinggiran sampai dimensi yang terdalam. Empati, emosi dan kepekaan terhadap penderitaan rakyat kecil tergambar jelas dalam buku Segelas Beras untuk Berdua. * Kisah Mbok Tukinem dan Pak Raidi yang tunanetra tetapi penuh kerelaan menjalani hidupnya. * Ketabahan dan keuletan Manusia M…
Menuju demokrasi adalah trend sejarah pada milenium ketiga. Bangsa Asia, termasuk kita bangsa Indonesia pun, mau tak mau harus menuju ke sana. Kalau tidak, kita akan menjadi "bangsa yang primitif" , terkucil dari pergaulan bangsa lain. Tapi membangun demokrasi bukanlah hal mudah. Sebab lebih daripada sekadar forma suatu negara, demokrasi adalahsikap hidup orang perorangan dalam masyarakat, Maka…
Dalam Buku ini terdapat 12 feature mengenai perziarahan, tempat suci, maupun devosi kepada Santa Perawan Maria. Dengan membaca buku ini, teman-teman merasa seperti diajak jalan-jalan dan melihat perjalanan ziarah Romo Sindhu. Buku ini berisi kisah nyata yang berujung dengan terwujudnya sebuah sumur kecil di gereja desa di lereng Gunung Merapi yang sejuk. Dengan kisah itu kita diajak untuk be…
Awalnya hanyalah mengenai lukisan celeng, tapi kemudian buku ini bercerita tentang politik, mental, tingkah laku, kemunafikan, kekejaman, kejahatan, dndam, nafsu, naluri, dan nasib manusia yang laksana celeng. Buku ini bagaikan mengulang kata-kata filsuf Friedrich Nietzche : binatang buas itu belum mati, dalam peradaban modern ini binatang buas itu masih hidup, makin hidup, malahan ia diilahikan.
Kita datang ke dunia ini sebagai saudara,tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah,yang ternyata hanya memisahkan kita? Itulah tragika anak manusia yang digeluti oleh novel Putri Cina ini. Novel ini melukiskan, bagaimana anak manusia itu ingin mencintai bumi tempat ia berpijak. Tapi ternyata bumi tersebut tak mau menjadi tanah airnya yang aman, damai dan tentram. Ia yakin, dengan …